Home » » Metamorfosis Kurikulum

Metamorfosis Kurikulum

Metamorfosis Kurikulum : Menjelang 2015, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sangat mendasar terkait dengan praksis pendidikan di Indonesia. Kebijakan yang tertuang dalam Pemendikbud No. 160 Tahun 2014 tersebut mengisyaratkan pemberlakuan kembali Kurikulum 2006 (KTSP) untuk sekolah-sekolah tertentu. Apakah ini langkah mundur ? Tentu saja tidak. Maju mundurnya pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kurikulum yang digunakan.

Sebenarnya, apa pun kurikulumnya, bukanlah perkara penting. Perlu digarisbawahi bahwa kurikulum hanyalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum bukanlah tujuan pendidikan itu sendiri. Sebagai alat, kurikulum berfungsi mempermudah guru dalam meracik dan merancang pembelajaran sehingga pembelajaran bernilai dan bermakna. Alat tersebut akan bekerja secara hebat, biasa-biasa saja, atau malah tidak berguna sama sekali, tergantung pada penggunanya. Di tangan pengguna, dalam hal ini guru, kurikulum akan bermetamorfosis.

Di tangan guru kreatif dan visioner, kurikulum akan bermetamorfosis menjadi alat yang luar biasa, tidak sekedar menjadi pelengkap formal proses pembelajaran. Dari tangan guru seperti inilah, kurikulum menjelma sebagai formulasi pembelajaran yang dahsyat, yang mampu menjawab isu-isu penting di dunia pendidikan.

Salah satu isu penting di dunia pendidikan adalah kurangnya pembelajaran yang memberi peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Ketrampilan ini mencakup berpikir kreatif (creative thinking), memecahkan masalah (problem solving), dan berpikir reflektif (reflective thinking). Muara dari semua ini adalah kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis (critical thinking). Bagaimana aktualisasi HOTS dalam pembelajaran ?

Pada tataran kognitif, HOTS diimplementasikan ke dalam pembelajaran yang memberi peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan menganalisis, menyintesis, menilai, dan mencipta. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran tersebut, diperlukan alat uji, berupa soal-soal standar HOTS. Di sinilah guru dituntut untuk berkreasi dan giat berburu referensi guna mengembangkan soal-soal standar HOTS. Hal ini penting, karena menurut beberapa sumber, HOTS akan menjadi bagian dalam mengembangkan kurikulum berikutnya.
Selamat berkarya.

Artikel ini disadur dari buku PR Matematika kelas XII IPS terbitan PT. Intan Pariwara tahun 2015

Semoga bermanfaat untuk pembaca, jangan lupa klik TOMBOL GOOGLE PLUS.
Terima Kasih.

Berlangganan Artikel! Masukkan alamat Email Anda di bawah:

Creatif By : Gusti Hadinata | www.gustihadinata.com

image Terimah Kasih telah membaca artikelMetamorfosis Kurikulum. Yang ditulis oleh Gusti Hadinata .Pada hari Senin, 14 September 2015. Jika anda ingin sebarluaskan artikel ini, mohon sertakan sumber link asli. Kritik dan saran dapat anda sampaikan di komentar, Trimakasih

:: Get this widget ! ::

Post Comment